ARLOJI, CICAK dan BUAYA

Cerpen : Irvan Mulyadie

drawing cerpen arloji

Dalam sebuah musim yang aneh, aku mendengar jutaan semut menyanyi lagu kembang gula. Dan di antara lambaian pucuk nyiur yang mulai layu, seekor kumbang meratapi cakrawala. Senja itu benar-benar akan tiba bersama malam dan kegelapannya. Bersama sunyi dan dengkur mimpi di dalamnya. Tapi….

”Bangun Pah, bangun…..! Hari sudah terang. Sudah saatnya Papah masuk kantor”. Bisik isteriku. Meskipun nadanya merdu mendayu-dayu, tapi terdengar oleh telingaku bagaikan berondongan tembakan mortir. Atau setidaknya laksana guruh petir yang menyambar seperti kemarin sore saat hujan lebat itu.

”Astaga…!” Aku terpekik, dan melihat arloji yang sejak dua bulan lalu tak pernah lepas dari tanganku. Maklum, sekarang-sekarang ini aku jadi paranoid. Cemas melulu rasanya. Dan sang insomnia seakan terkekeh-kekeh mengejekku yang kian sibuk memetakan langkah dan strategi menghadapi ragam ambisi. Namun sebetulnya, tidak banyak juga cita-citaku. Ya, aku hanya masih senang dengan segala yang kumiliki hingga saat ini. Sungguh. Dan aku senantiasa sekuat tenaga mempertahankannya. Dengan cara dan resiko apa pun juga.

” Pak Lambang tadi nelpon. Katanya penting. Tapi Mamih gak berani bangunkan Papah. Mamih jadi heran, lho, Pah. Papah kan tidak pernah suka nonton bola. Kok, sekarang-sekarang ini Papah jadi kayak kesurupan bola? Padahal yang Mamih tahu, ya. Papah itu hobinya cuma catur dan mancing saja. Apa memang sudah mulai demam piala dunia, ya? Aneh, deh. ” Isteriku

nyerocos sambil membuka tirai jendela. Dan sinar matahari meloncat terburu-buru ke dalam kamar. Sedangkan aku masih berusaha mengumpulkan pangacian. Ah, aku ingat sekarang. Semalam aku memang begadang. Nonton perang dunia, eh, Piala Dunia antara Jerman dan Argentina. Benar-benar pertandingan yang gila. Aku tak menyangka, Si Villa gagal membuat gol saat adu penalty itu. Ini hal yang tragis. Setelah 90 menit berlalu, dilanjutkan dengan 30 menit dalam perpanjangan waktu yang menguras segalanya, akhirnya….. Ah, aku pun kalah pertaruhan dengan Wande, kawan baikku. Begitu peluit panjang berbunyi, dia langsung jungkir balik merayakan kemenangannya. Sungguh mengecewakan. Tapi pelacur-pelacur itu malah turut tertawa memanasiku. Luar dalam. Hingga kuledakan juga amarah ini bersamanya. Sambil mabuk. Baca Lanjutannya…

PUBLIKASI SASTRA DIGITAL

Oleh: Irvan Mulyadie

Salah Satu Album Puisi Godi Suwarna

Karya sastra dibuat untuk memenuhi panggilan jiwa kreatornya, Sastrawan. Secara intuitif karya-karya tersebut tercipta sebagai respon atas pergulatan batin melalui perenungan-perenungan yang dalam, serta telah melalui proses persentuhan dengan berbagai hal di luar diri pengarangnya. Bisa realitas sosial masyarakat di sekitarnya, persoalan ekonomi, kondisi politik, serta lebih jauhnya lagi menjadi semacam ‘kamera tersembunyi’ yang merekam perjalanan suatu bentuk kebudayaan dunia.

Ragam karya sastra pun bermacam-macam. Mulai dari puisi, cerita pendek, novel, juga naskah drama. Tapi belakangan diwacanakan pula perihal esai seni budaya dan skenario film yang dapat dikategorikan sebagai karya sastra tersendiri. Namun disini, saya tidak akan mempersoalkan tentang bentuk karya sastra tersebut. Bukan karena telah menganggap selesai, rasanya cukup para ahli atau pakar dan peneliti sastra saja yang melakukannya.

Ada yang begitu menarik perhatian saya selama ini dalam mengikuti perjalanan perkembangan sastra di Indonesia. Terutama di wilayah teknik publikasi karya sastra yang dilakukan oleh para Sastrawannya. Puisi, misalnya. Baca Lanjutannya…

SETITIK EMBUN PAGI

CERPEN: IRVAN MULYADIE

karya: irvan mulyadie 2009

karya: irvan mulyadie 2009

“Pak Kyai, sebetulnya, untuk apa kita puasa?”

Pertanyaan itulah yang meluncur terakhir kali dalam sebuah dialog singkat tapi padat di mushala Al-Alit pada detik-detik terakhir di bulan Sàban. Suara-suara dari hadirin yang tadinya galécok menjadi hening seketika. Mata mereka sama-sama tertuju pada lelaki separuh baya di pojok sana. Di barisan paling belakang para peserta pengajian.

Sosok itu adalah Kho Koe Chieng, yang semenjak menikahi janda Sàdiyah menyatakan diri sebagai mualaf. Hal ini terjadi beberapa minggu lalu. Namanya pun dengan rela ia robah sendiri. Terkesan islami. Tapi hal itu ia lakukan tidak untuk mengikuti trend saja. Bukan pula atas tekanan dari pihak mana pun. Ia melakukannya dengan sesadar-sadarnya. Sebab agama ini tak membiarkan siapa pun untuk memaksakan sesuatu kepada orang yang tak mempunyai haknya. Bahkan untuk persoalan keyakinan yang sepenuhnya urusan Hidayah dari Allah Awt.

Memang, merobah nama pada pasca Reformasi ini tak sesulit pada jaman Orba. Dulu, selain prosesnya rumit, berbelit-belit juga biayanya tak bisa dibilang murah. Apalagi bagi WNI yang tadinya berketurunan Tionghoa. Entah kenapa. Meski pun sebenarnya ia lahir dan dibesarkan oleh nenek moyang yang juga terlahir dan telah melahirkan lagi beberapa generasi di negeri yang mempunyai semboyan Bhineka Tungal Ika ini. Memang ironis. Baca Lanjutannya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.