<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Irvanmulyadie&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://irvanmulyadie.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://irvanmulyadie.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Dec 2009 05:51:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='irvanmulyadie.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/e8ccb7b1eb197abd07da7e5c467f5cbd?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Irvanmulyadie&#039;s Blog</title>
		<link>http://irvanmulyadie.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://irvanmulyadie.wordpress.com/osd.xml" title="Irvanmulyadie&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://irvanmulyadie.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>ARLOJI, CICAK dan BUAYA</title>
		<link>http://irvanmulyadie.wordpress.com/2009/11/16/arloji-cicak-dan-buaya/</link>
		<comments>http://irvanmulyadie.wordpress.com/2009/11/16/arloji-cicak-dan-buaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 06:38:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irvanmulyadie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irvanmulyadie.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen : Irvan Mulyadie Dalam sebuah musim yang aneh, aku mendengar jutaan semut menyanyi lagu kembang gula. Dan di antara lambaian pucuk nyiur yang mulai layu, seekor kumbang meratapi cakrawala. Senja itu benar-benar akan tiba bersama malam dan kegelapannya. Bersama sunyi dan dengkur mimpi di dalamnya. Tapi&#8230;. ”Bangun Pah, bangun&#8230;..! Hari sudah terang. Sudah saatnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irvanmulyadie.wordpress.com&amp;blog=9284590&amp;post=86&amp;subd=irvanmulyadie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerpen : Irvan Mulyadie</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-88" title="drawing cerpen arloji" src="http://irvanmulyadie.files.wordpress.com/2009/11/drawing-cerpen-arloji1.jpg?w=338&#038;h=398" alt="drawing cerpen arloji" width="338" height="398" /><br />
</strong></p>
<p>Dalam sebuah musim yang aneh, aku mendengar jutaan semut menyanyi lagu kembang gula. Dan di antara lambaian pucuk nyiur yang mulai layu, seekor kumbang meratapi cakrawala. Senja itu benar-benar akan tiba bersama malam dan kegelapannya. Bersama sunyi dan dengkur mimpi di dalamnya. Tapi&#8230;.</p>
<p>”Bangun Pah, bangun&#8230;..! Hari sudah terang. Sudah saatnya Papah masuk kantor”. Bisik isteriku. Meskipun nadanya merdu mendayu-dayu, tapi terdengar oleh telingaku bagaikan berondongan tembakan mortir. Atau setidaknya laksana guruh petir yang menyambar seperti kemarin sore saat hujan lebat itu.</p>
<p>”Astaga&#8230;!” Aku terpekik, dan melihat arloji yang sejak dua bulan lalu tak pernah lepas dari tanganku. Maklum, sekarang-sekarang ini aku jadi paranoid. Cemas melulu rasanya. Dan sang insomnia seakan terkekeh-kekeh mengejekku yang kian sibuk memetakan langkah dan strategi menghadapi ragam ambisi. Namun sebetulnya, tidak banyak juga cita-citaku. Ya, aku hanya masih senang dengan segala yang kumiliki hingga saat ini. Sungguh. Dan aku senantiasa sekuat tenaga mempertahankannya. Dengan cara dan resiko apa pun juga.</p>
<p>” Pak Lambang tadi nelpon. Katanya penting. Tapi Mamih gak berani bangunkan Papah. Mamih jadi heran, lho, Pah. Papah kan tidak pernah suka nonton bola. Kok, sekarang-sekarang ini Papah jadi kayak kesurupan bola? Padahal yang Mamih tahu, ya. Papah itu hobinya cuma catur dan mancing saja. Apa memang sudah mulai demam piala dunia, ya? Aneh, deh. ” Isteriku</p>
<p>nyerocos sambil membuka tirai jendela. Dan sinar matahari meloncat terburu-buru ke dalam kamar. Sedangkan aku masih berusaha mengumpulkan <em>pangacian.</em> Ah, aku ingat sekarang. Semalam aku memang begadang. Nonton perang dunia, eh, Piala Dunia antara Jerman dan Argentina. Benar-benar pertandingan yang gila. Aku tak menyangka, Si Villa gagal membuat gol saat adu penalty itu. Ini hal yang tragis. Setelah 90 menit berlalu, dilanjutkan dengan 30 menit dalam perpanjangan waktu yang menguras segalanya, akhirnya&#8230;.. Ah, aku pun kalah pertaruhan dengan Wande, kawan baikku. Begitu peluit panjang berbunyi, dia langsung jungkir balik merayakan kemenangannya. Sungguh mengecewakan. Tapi pelacur-pelacur itu malah turut tertawa memanasiku. Luar dalam. Hingga kuledakan juga amarah ini bersamanya. Sambil mabuk.<span id="more-86"></span></p>
<p>Kini aku ingat. Sekarang aku sudah ada di rumah. Di kamar ini dengan isteriku yang cerewet. Ocehannya tidak kugubris dari tadi. Tapi akau tak ingat sama sekali, kapan aku pulang dari hotel itu?. Dan kemana pula si wande dan pelacur-pelacur itu? Astaga, lagi! Ahk, semoga saja ajudanku benar-benar setia dan tak pernah membocorkan semuanya. Tak peduli berapa pun uang untuk membungkamnya. Dan aku percaya, bahwa anjing dan tulang tidak pernah saling bermusuhan.Aku kembali melirik arloji di tanganku yang agak lembab oleh keringat. Sudah jam sembilan lewat sebelas menit. Sementara istriku ngeloyor pergi dengan nada mulut ngeyelnya. Terus mengoceh menandingi kicauan burung murai di halam rumah. Hari ini aku punya jadwal. Sederet janji. Bung Lambang mungkin ingin memastikan kehadiranku dalam musyawarah luar biasa di siang ini. Aku pasti datang. Tapi tak boleh telat seperti biasa. Dan ini penting. Sangat penting sekali karena menyangkut soal kursi yang kududuki sekarang. Cepat-cepat kusambar handuk, mencuci diri.</p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>Aku sudah sampai di area ruang sidang istimewa yang kian ramai dan dipadati dengan acara protokoler. Mendekati pukul sepuluh, begitulah tunjuk jarum jam di arlojiku menandai waktu. Dan aku mulai dapat bernafas lega. Padahal biasanya, dalam setiap acara seremonial seperti ini aku lebih suka ngaret. Ya, meskipun tidak ada suatu apa pun yang menghalangi. Apalagi kalau hanya sekedar untuk memberikan sambutan  dan membuka acara-acara resmi yang sipatnya simbolis saja.</p>
<p>Dulu, ketika memulai seratus hari kerja pertama dalam tugas, aku senantiasa tepat waktu. Sekalian membuktikan pada semua pendukung dan musuh-musuhku bahwa aku memang layak untuk dipilih dalam jabatan ini. Dan disiplin. Setelahnya, ya biasa, jam karet mulai berlaku. Dan aku sudah terbiasa dengan itu semua. Sebab di negeriku, hal tersebut sudahlah dianggap wajar. Bahkan telah membudaya.</p>
<p>Tapi aneh. Ada hal yang janggal kurasakan saat ini. Instingku mencium aroma penghianatan di mana-mana. Kehangatan kawan-kawan perjuanganku tampak mencurigakan. Terlalu dibuat-buat dan berlebihan. Over acting. Mereka tersnyum dan menyalamiku dengan erat. Namun aku malah mengira keakrabannya itu adalah siasat. Begitu pula dengan si Lambang. Dia tidak secair dulu. Seperti membuat jarak. Di antara barisan terdepan deretan kursi empuk di gedung itu, hanya Masa ajudanku yang setia mendampingi dengan berbagai pengarahan secara teknis dalam acara ini. Lainnya dingin membatu kali. Ada pun pendukung yang menyatakan dirinya masih di pihakku, mereka tidak mau terlalu kelihatan. Mungkin tak mau ambil resiko terlalu frontal dengan mayoritas lawan. Paranoidku kambuh lagi. Bagaimana tidak? Sudah beberapa minggu aku bersitegang dengan tim suksesku pada saat pemilihan. Beberapa diantara mereka tidak setuju dengan kebijakanku yang dinilainya kurang menguntungkan mereka. Dan aku tak habis pikir mengapa mereka berbuat begitu. Padahal beberapa proyek bernilai tinggi sebagai tanda terimakasih sudah serahkan. Meskipun pada akhirnya hasilnya agak mengecewakan. Selain kurang bagus pekerjaannya, juga terlalu mencolok dalam mencuri anggaran pembangunannya. Tentu saja akan mencoreng kredibilitasku di kemudian hari.</p>
<p>Di pojok kanan, Mas Cokro melempar senyum ke arahku. Tapi sinis. Dia mengedipkan sebelah matanya dengan tangan yang bersilang sambil memperagakan orang sedang menyembelih ayam. Kroco-kroconya menoleh ke arahku. Lantas mereka tertawa terbahak-bahak dengan tanpa mempedulikan paparan panitia yang sedang membacakan aturan main acara. Aku geleng-geleng kepala saja. Gedung ini terasa lebih padat dari kenyataannya. Panas. Bergemuruh, mataku mulai membara. Dadaku bergolak.</p>
<p>Untung saja, acara utama mulai dibuka oleh pemimpin sidang. Dia angkat bicara seolah nabi yang memberikan wejangan kepada para pengikutnya. Berwibawa. Suasana hening seketika. Hanya jantungku yang kian kencang menabuhkan lagu-lagu kegelisahan. Sebutir aspirin sudah berpindah dari botolnya ke lambungku. Migran sialan ini mulai kumat. Beberapa saat lagi, pemungutan suara akan dimulai. Suara yang akan menentukan nasib hidupku di masa depan. Tentang jabatanku yang dianggap telah diselewengkan. Bisik-bisik tetangga mulai ramai disekeliling. Dari awalnya berjalan khidmat, kini mulai meletup-letup. Hujan interupsi menghiasi jalannya sidang istimewa yang dipaksakan ini. Bahkan ada sedikit kerusuhan di belakang sehingga rapat harus ditunda dalam 1 Jam. Inilah detik-detik dimana perubahan dapat cepat terjadi.</p>
<p>Seperti biasa, sebelum datang kemari, aku telah menyiapkan segepok cek kosong yang telah lebih dahulu kububuhi tanda tanganku. Tinggal menulis angkanya saja, untuk jaga-jaga. Dan penting sekali, terutama dalam saat-saat seperti sekarang.</p>
<p>”Pak, ada panggilan dari pimpinan rapat” Kata Masa sembari menyodorkan handphone yang masih menyala. Saat itu, aku sedang berunding dengan beberapa kawanku. Mengatur strategi. Ternyata, dia menginginkan aku untuk menemuinya di lantai paling atas gedung ini. Tepatnya di toilet paling ujung. Aku agak heran, tapi segera bergegas menemuinya. Sendiri saja.</p>
<p>Seorang petugas cleaning service membenamkan wajah pada topinya. Dia nampak berpura-pura mengepel lantai yang memang sudah bersih itu, depan toilet. Melihat kedatanganku ia langsung menganggukan kepala dan mempersilakan masuk. Sekilas, ada perasaan curiga atas keadaan yang sepi ini. Terlalu sepi. Dan aku masuk saja ke ruangan yang tak begitu terang namun lumayan luas. Seorang lelaki setengah baya terlihat tegang dengan senyum yang dipaksakan menyambutku.</p>
<p>“Apa yang bisa kubantu?” Katanya sambil mengajak bersalaman.</p>
<p>Aku menerima tangan gugup yang berkeringat itu. Dalam hati aku sedikit tertawa geli.</p>
<p>”Sebetulnya, justeru saya yang akan membantu sodara” Jawabku penuh percaya diri.</p>
<p>“Maksudnya?” Dia pura-pura bego. Aku kenal sekali gaya musang seperti itu. Pura-pura sok suci. Padahal dia sendiri yang bikin janji untuk bertemu disini.</p>
<p>”Berapa yang bapak minta? Mudah-mudahan saya dapat mengabulkan” Serangku  kemudian.</p>
<p>”O, rupanya anda tak begitu pandai berdiplomasi. Porno sekali, ya&#8230;?”</p>
<p>Aku terkekeh sambil mencuri pandang ke arah arlojiku. Dia pun tertawa. Seperempat jam lagi sidang akan dibuka kembali. Dan tentu saja orang-orang akan sibuk mencari kami dengan berbagai spekulasi. Tapi aku sudah tak peduli. Kemudian, pada cermin yang telah  dia sembur dengan hawa dari mulutnya ia menuliskan sesuatu dengan jarinya. 2M. Aku melihatnya dengan jelas, dan sedikit terperangah. Rakus sekali orang ini. Selang beberapa saat ia pun mengahapusnya dengan tangan yang kian basah oleh keringat. Aku mafhum. Maka kukeluarkan segepok kertas, menuliskan angka yang sesuai dengan permintaannya. Namun sebelum kuserahkan, aku bertanya memastikan.</p>
<p>”Apa jaminannya?” Ucapku tegas.</p>
<p>Dia nampak kelimpungan. Grogi. Tapi tangannya cukup tangkas merebut kertas yang kusodorkan dengan tanpa memeriksanya lagi. Dia hanya memberikan isyarat kepadaku dengan mengangkat bahu dan memegang baju saparinya. Seulas senyum menyembul ringan. Dan dia menepuk pundakku dua kali. Aneh, kenapa tak sepatah kata pun yang diucapkannya dalam negosiasi sebesar ini? Apakah&#8230;.? Namun sebelum pertanyaanku menemukan jawaban, tiba-tiba, pintu toilet didobrak paksa. Terjerembab di lantai. Hampir saja menimpaku. Semua kaget !</p>
<p>Kemudian orang-orang itu, yang entah darimana asalnya, menghambur masuk. Termasuk Mas Cokro dan kroni-kroninya. Diantara mereka ada yang membawa alat perekam suara. Selebihnya, jepretan kamera berkilauan memburu wajahku, Wartawan. Lalu aku tersadar dari keadaan ini. Aku telah dijebak. Lalu aku mencari-cari si pimpinan sidang yang sejak tadi di sampingku. Ternyata, dia sudah ada di belakang mereka. Bersama para satgas juga. Penghianat!.</p>
<p>“Bapak kami tangkap dengan tuduhan penyuapan” Kata seorang satgas sambil berusaha untuk menangkapku. Sementara wartwan-wartawan itu terus sibuk mengambil gambarku.</p>
<p>”Mana surat perintahnya?” Kataku berusaha tegar.</p>
<p>”Ini&#8230;..!” Katanya sambil setengah memaksa ingin menyeretku. Reflek aku menepisnya. Aneh sekali, bagaimana mungkin surat penagkapan itu ada dengan sekonyong-konyong? Ini pasti ada sebuah skenario besar di belakangnya. Sudah direncanakan.</p>
<p>”Sebentar, bapak-bapak. Saya sendirian dan tidak bersenjata. Kalian tidak usah takut saya lari. Ijinkan saya membaca dulu surat ini dengan tenang. Dan hormatilah saya sebagai manusia, oke?” Bentakku.</p>
<p>Suasana mulai cair meski ketegangan kian menjadi-jadi. Aku melihat wajah-wajah yang haus darah melingkariku. Bola mata mereka tajam dan menyala. Sejenak hening. Hanya desah nafas busuk turun naik yang terdengar. Kulirik kembali arlojiku. Lalu kupecahkan sunyi seketika.</p>
<p>”Apa buktinya kalau saya sudah menyuap?” Tanyaku ragu-ragu.</p>
<p>Tapi pimpinan rapat itu segera maju dari kerumunan yang kian bertambah itu dengan selembar kertas di tangannya. Dia memperlakukan kertas itu dengan gaya melecehkan. Dicapit di antara jempol dan ujung telunjuk tangan kanannya.</p>
<p>”Bukankah ini adalah bukti?” Katanya dengan nada mengejek.</p>
<p>”Mana?” Seruku dengan pura-pura terkejut dan kecewa.</p>
<p>Sementara Mas Cokro mulai tertawa dengan lontaran cemoohan yang menyakitkan. Tapi aku tak peduli. Aku terus memperhatikan selembar kertas yang berkibar tepat di depan hidungku. Kugelengkan kepalaku. Aku mencoba tersenyum dan berusaha menghayati irama tawa yang kian bergema di ruangan yang sempit ini. Lalu aku pun tertawa sekeras-kerasnya. Lebih keras daripada tawa Mas Cokro yang menganggap diri telah menang dalam pertempuran. Orang-orang pun jadi bingung. Mungkin telah menganggap aku mendadak stres dengan kejadian ini. Jepretan kamera kembali ramai memburu wajahku yang dramatis.</p>
<p>”Memangnya apa yang ada ditangan anda, pak pimpinan sidang? Apa?” Tanyaku.</p>
<p>”Cek. Ini adalah cekmu untuk menyuap saya !” Jawabnya tegas.</p>
<p>“Mana? Saya kira tidak ada sebuah bank pun di dunia yang mengeluarkan cek begitu.    Lihatlah….!!!” Aku kembali tertawa terpingkal-pingkal.</p>
<p>Kepala satgas menghampiri pimpinan sidang yang melongo dan mengambil kertas tersebut. Mereka meneliti berkas yang dianggapnya bukti tersebut. Tentu saja mereka akan kecewa dengan apa yang telah didapatkannya itu.</p>
<p>“Saudara-saudara…..” Kataku ”….Mungkin  kalian mengira saya mudah sekali untuk dijebak oleh trik basi seperti ini. Kebusukan kalian sudah kucium sejak dulu. Kertas itu bukanlah cek. Hanya uang monopoli mainan anakku yang sengaja kumanipulasi agar nampak seperti cek beneran. Kalian menjebakku, tapi kini justeru kalianlah yang terjebak perangkap sendiri. Buat kawan-kawan dari wartawan, inilah berita yang sesungguhnya&#8230;.hahaha”</p>
<p>Lalu aku melihat ke langit-langit Toilet itu.</p>
<p>”Baiklah, Pak Masa. Sekarang anda boleh keluar” Kataku.</p>
<p>”Siap, Pak !” Masa turun melewati lubang plafond gypsum toilet dengan menenteng handycam.</p>
<p>”Di kamera Pak Masa ini, telah direkam setiap kejadian yang berlangsung di ruangan ini. Dari awal hingga akhir. Nah, bila kalian ingin membuktikan siapa yang paling beruntung, kupersilahkan untuk mengambil dan mempelajari rekamannya&#8230;..” Kulemparkan kaset itu.</p>
<p>Wartawan saling berebut untuk mendapatkannya. Aku dan ajudanku ngeloyor pergi dari tempat yang mulai disesaki orang-orang. Sinar lampu blitz dari kamera berkilau-kilau. Pertanyaan ini dan itu mulai ramai. Tapi tidak ditujukan untukku. Kulirik kembali arlojiku. Sudah lewat dari jadwal. Sidang ditunda untuk waktu yang belum ditentukan&#8230;&#8230;</p>
<p><strong>***</strong></p>
<p><em>Tasikmalaya, 1 Juli 2006</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>dimuat pertamakali di lembar budaya Harian Radar Tasikmalaya (8/10/09)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irvanmulyadie.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irvanmulyadie.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irvanmulyadie.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irvanmulyadie.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irvanmulyadie.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irvanmulyadie.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irvanmulyadie.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irvanmulyadie.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irvanmulyadie.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irvanmulyadie.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irvanmulyadie.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irvanmulyadie.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irvanmulyadie.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irvanmulyadie.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irvanmulyadie.wordpress.com&amp;blog=9284590&amp;post=86&amp;subd=irvanmulyadie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irvanmulyadie.wordpress.com/2009/11/16/arloji-cicak-dan-buaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0360d045dad801613ebd931b71db163?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irvanmulyadie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irvanmulyadie.files.wordpress.com/2009/11/drawing-cerpen-arloji1.jpg?w=238" medium="image">
			<media:title type="html">drawing cerpen arloji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUBLIKASI SASTRA DIGITAL</title>
		<link>http://irvanmulyadie.wordpress.com/2009/10/09/publikasi-sastra-digital/</link>
		<comments>http://irvanmulyadie.wordpress.com/2009/10/09/publikasi-sastra-digital/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 03:18:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irvanmulyadie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irvanmulyadie.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Irvan Mulyadie Karya sastra dibuat untuk memenuhi panggilan jiwa kreatornya, Sastrawan. Secara intuitif karya-karya tersebut tercipta sebagai respon atas pergulatan batin melalui perenungan-perenungan yang dalam, serta telah melalui proses persentuhan dengan berbagai hal di luar diri pengarangnya. Bisa realitas sosial masyarakat di sekitarnya, persoalan ekonomi, kondisi politik, serta lebih jauhnya lagi menjadi semacam ‘kamera [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irvanmulyadie.wordpress.com&amp;blog=9284590&amp;post=15&amp;subd=irvanmulyadie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Oleh: Irvan Mulyadie</p>
<div id="attachment_96" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://irvanmulyadie.files.wordpress.com/2009/10/godi-suwarna.jpg"><img class="size-medium wp-image-96" title="godi suwarna" src="http://irvanmulyadie.files.wordpress.com/2009/10/godi-suwarna.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Salah Satu Album Puisi Godi Suwarna</p></div>
<p><strong><span style="color:#000080;">Karya sastra dibuat untuk memenuhi panggilan jiwa kreatornya, Sastrawan. Secara intuitif karya-karya tersebut tercipta sebagai respon atas pergulatan batin melalui perenungan-perenungan yang dalam, serta telah melalui proses persentuhan dengan berbagai hal di luar diri pengarangnya. Bisa realitas sosial masyarakat di sekitarnya, persoalan ekonomi, kondisi politik, serta lebih jauhnya lagi menjadi semacam </span><span style="color:#ff0000;">‘kamera tersembunyi’</span><span style="color:#000080;"> yang merekam perjalanan suatu bentuk kebudayaan dunia.</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#000080;"> </span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ragam karya sastra pun bermacam-macam. Mulai dari puisi, cerita pendek, novel, juga naskah drama. Tapi belakangan diwacanakan pula perihal esai seni budaya dan skenario film yang dapat dikategorikan sebagai karya sastra tersendiri. Namun disini, saya tidak akan mempersoalkan tentang bentuk karya sastra tersebut. Bukan karena telah menganggap selesai, rasanya cukup para ahli atau pakar dan peneliti sastra saja yang melakukannya.</p>
<p>Ada yang begitu menarik perhatian saya selama ini dalam mengikuti perjalanan perkembangan sastra di Indonesia. Terutama di wilayah teknik publikasi karya sastra yang dilakukan oleh para Sastrawannya. Puisi, misalnya.<span id="more-15"></span> Mungkin pada tahun-tahun sebelum 1990an, media cetak seperti koran dan majalah adalah pelabuhan impian bagi para pengarang dalam mengumumkan kreativitasnya. Selain dapat dibaca oleh khalayak luas, terlebih honor tulisannya mampu menambah isi pundi-pundi yang dapat dipergunakan untuk membiayai proses kreatifnya.</p>
<p>Sayangnya, keterbatasan rubik atau halaman menjadi pemicu ’kecemburuan sosial’ diantara para pengarangnya sendiri. Belum lagi tentang masalah gara-gara banyaknya koran atau majalah yang berhenti menampilkan karya puisi. Persaingan karya yang tak sehat pun mulai muncul akibat adanya kecenderungan (baca: selera) redaktur pemegang halaman sastra sendiri. Bahkan diakui atau tidak, akhirnya semua itu menciptakan semacam ’rejim sastra’. Tentu saja wacana tersebut kurang produktif.</p>
<p>Perbedaan mencolok dalam proses publikasi karya sastra dapat kita rasakan setelah menjamurnya wacana internet. Di Indonesia, internet dalam hal ini telah memberikan sedikit pencerahan bagi para penggiat sastra. Media internet sedikitnya mampu mengobati kerinduan untuk tampil di muka umum. Dengan tiba-tiba, banyak orang yang mampu menulis puisi, cerpen dan sebagainya yang dipublikasikan secara luas meski terbatas.</p>
<p>Luas, karena dapat dibaca oleh semua orang di dunia. Dan terbatas, karena di Indonesia pada awal tahun 1990an orang yang mampu mengakses internet sendiri tidak begitu banyak. Apalagi kemampuan menggunakan teknologi informasi diantara para praktisi sastra serius belum menampakan diri. Maka hasilnya dapat ditebak. Karya-karya yang dipublikasikan di dunia maya banyak kehilangan bobotnya. Bahkan banyak sastrawan senior yang sinis dengan menyebutnya sebagai karya sampah tak bermutu.</p>
<p><a style="color:#66e9ff;text-decoration:none;" href="http://www.ziddu.com/download/6721220/lipletkompilasipembacaanpuisipenyairindonesia.jpg.html">Sastra Digital</a></p>
<p>Berbicara tentang publikasi karya sastra, lebih spesifiknya lagi puisi, saya melihat begitu banyak peluang untuk mengembangkannya. Dalam format digital, misalnya. Hal ini boleh direspon oleh berbagai kalangan. Terutama oleh para kreatornya sendiri (penyair). Meskipun media cetak seperti koran, majalah atau buku merupakan media publikasi efektif dan masih tak tergantikan secara signifikan selama ini.<br />
Publikasi puisi dalam format digital, bisa berupa pembacaan karya puisi yang direkam dalam sebuah kaset atau cakram CD. Atau lebih jauh lagi melalui video art yang menggunakan teknologi multimedia. Memang, wacana ini sebetulnya tidaklah orsinil, dengan kata lain bukanlah hal baru. Mengingat beberapa orang telah melakukannya.</p>
<p>Sebut saja almarhum WS Rendra, yang beberapa tahun ke belakang telah merilis album puisinya dengan bentuk kaset/CD. Dan menurut keterangan, pemasarannya sudah mencapai beberapa negara tetangga seperti Malaysia. Tidak hanya dalam bentuk rekaman suara, ketika masih muda usia, ia pun telah melangkah lebih jauh dengan mempublikasikan puisinya dalam bentuk video klip. Dan video tersebut masih dapat kita akses dengan mudah sekarang ini melalui situs terkemuka di dunia, youtube. Tentu saja hal ini sangat menarik.</p>
<p>Tidak hanya WS Rendra, penyair asal Priangan Timur, Godi Suwarna pun pernah melakukan hal serupa. Dia membacakan puisi pilihannya dalam bahasa Sunda dan direkam serta dipublikasikan dalam bentuk kaset. Pada awalnya album Godi Suwarna tersebut murni mengandalkan kepiawaiannya dalam membaca puisi. Hanya belakangan telah mendapatkan sentuhan musik dan kemudian dipublikasikan dalam bentuk keping CD. Saya sendiri pernah melakukannya. Tidak hanya direkam dalam format suara dalam keping CD, melainkan video klip / video artnya juga. Dan telah dipublikasikan di beberapa situs terkemuka seperti <a style="color:#fd80ff;text-decoration:none;" href="http://www.youtube.com/watch?v=67WdRIg5oyc">youtube</a>, narsis.tv , Blog Google, dan bahkan di situs jejajaring sosial, facebook.</p>
<p>Mungkin, sebutan sastra digital untuk kreasi seperti ini akan mengundang perdebatan panjang. Mengingat belum adanya teori baku yang mengaturnya. Tapi yang jelas, pengukuran kualitas nilai instrinsik atau ekstrinsik sastra di dalamnya tetap berada pada nilai-nilai yang terkandung berdasarkan sastra tekstual saja. Artinya, muatan dalam teks puisi tetap tidak akan mendapatkan tambahan nilai lebih meskipun diberikan performa lain seperti dengan sentuhan audio visual. Hanya dari sisi apresiasi, apresiator akan mendapatkan ’kontraksi bathin’ tersendiri. Karena suguhan puisi dalam bentuk ini akan mampu merangsang beberapa pancaindera untuk menikmatinya.</p>
<p>Namun yang perlu diwaspadai disini, jangan sampai ada penggiringan imajinasi terlalu frontal dalam pengemasannya. Sehingga keutuhan nilai sastranya sendiri tetap terjaga. Dan mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasanya sendiri.</p>
<p><a style="color:#66e9ff;text-decoration:none;" href="http://www.ziddu.com/download/6721220/lipletkompilasipembacaanpuisipenyairindonesia.jpg.html">Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia </a></p>
<p>Berangkat dari wacana di atas, agaknya publikasi karya puisi tidak perlu lagi terfokus pada berwujud teks saja. Pemikirannya sederhana, yakni untuk memberikan sebuah pengucapan segar dalam rangka meningkatkan kembali pamor puisi yang selama ini cukup jauh tertinggal dibanding dengan wacana seni kontemporer yang bernuansa pop (baca: Pasaran). Dan ini penting. Paling tidak dapat dianalogikan sebagai hiasan pemanis dalam suatu hidangan di meja makan.</p>
<p>Salah satu hal yang logis untuk mewujudkan semua itu yakni dengan memulainya dari sekarang. Adanya perhelatan yang digagas oleh beberapa penyair muda yang bertajuk Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia: Bisikan Hati Anak Negeri agaknya perlu mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Sebab dengan pergerakan seperti inilah agaknya kemajuan wacana sastra di masa depan akan menemukan gairahnya kembali.</p>
<p>Tidak hanya menjadi bahan pembelajaran dalam teknik mengemas karya, juga sebagai saluran jejaring sosial dari lintas generasi sastra yang berbeda. Intinya silaturahmi. Sekaligus upaya pemanfaatan teknologi informasi publikasi dengan cara yang efektif dan efisien.*)</p>
<p><span style="color:#0000ff;">(Dimuat pertamakali di Harian Radar Tasikmalaya: 27 September 2009)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irvanmulyadie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irvanmulyadie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irvanmulyadie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irvanmulyadie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irvanmulyadie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irvanmulyadie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irvanmulyadie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irvanmulyadie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irvanmulyadie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irvanmulyadie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irvanmulyadie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irvanmulyadie.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irvanmulyadie.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irvanmulyadie.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irvanmulyadie.wordpress.com&amp;blog=9284590&amp;post=15&amp;subd=irvanmulyadie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irvanmulyadie.wordpress.com/2009/10/09/publikasi-sastra-digital/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0360d045dad801613ebd931b71db163?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irvanmulyadie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irvanmulyadie.files.wordpress.com/2009/10/godi-suwarna.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">godi suwarna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SETITIK EMBUN PAGI</title>
		<link>http://irvanmulyadie.wordpress.com/2009/09/02/setitik-embun-pagi/</link>
		<comments>http://irvanmulyadie.wordpress.com/2009/09/02/setitik-embun-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 03:46:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irvanmulyadie</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen islami]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen religius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irvanmulyadie.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[“Pak Kyai, sebetulnya, untuk apa kita puasa?”

Pertanyaan itulah yang meluncur terakhir kali dalam sebuah dialog singkat tapi padat di mushala Al-Alit pada detik-detik terakhir di bulan Sàban. Suara-suara dari hadirin yang tadinya galécok menjadi hening seketika. Mata mereka sama-sama tertuju pada lelaki separuh baya di pojok sana. Di barisan paling belakang para peserta pengajian.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irvanmulyadie.wordpress.com&amp;blog=9284590&amp;post=3&amp;subd=irvanmulyadie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CERPEN: IRVAN MULYADIE</strong></p>
<div id="attachment_4" class="wp-caption aligncenter" style="width: 267px"><a href="http://irvanmulyadie.blogspot.com/2009/08/setitik-embun-pagi.html"><img class="size-full wp-image-4" title="ILUSTRASI setetes embun pagi" src="http://irvanmulyadie.files.wordpress.com/2009/09/ilustrasi-setetes-embun-pagi.jpg?w=257&#038;h=400" alt="karya: irvan mulyadie 2009" width="257" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">karya: irvan mulyadie 2009</p></div>
<p>“Pak Kyai, sebetulnya, untuk apa kita puasa?”</p>
<p>Pertanyaan itulah yang meluncur terakhir kali dalam sebuah dialog singkat tapi padat di mushala Al-Alit pada detik-detik terakhir di bulan Sàban. Suara-suara dari hadirin yang tadinya galécok menjadi hening seketika. Mata mereka sama-sama tertuju pada lelaki separuh baya di pojok sana. Di barisan paling belakang para peserta pengajian.</p>
<p>Sosok itu adalah Kho Koe Chieng, yang semenjak menikahi janda Sàdiyah menyatakan diri sebagai mualaf. Hal ini terjadi beberapa minggu lalu. Namanya pun dengan rela ia robah sendiri. Terkesan islami. Tapi hal itu ia lakukan tidak untuk mengikuti trend saja. Bukan pula atas tekanan dari pihak mana pun. Ia melakukannya dengan sesadar-sadarnya. Sebab agama ini tak membiarkan siapa pun untuk memaksakan sesuatu kepada orang yang tak mempunyai haknya. Bahkan untuk persoalan keyakinan yang sepenuhnya urusan Hidayah dari Allah Awt.</p>
<p>Memang, merobah nama pada pasca Reformasi ini tak sesulit pada jaman Orba. Dulu, selain prosesnya rumit, berbelit-belit juga biayanya tak bisa dibilang murah. Apalagi bagi WNI yang tadinya berketurunan Tionghoa. Entah kenapa. Meski pun sebenarnya ia lahir dan dibesarkan oleh nenek moyang yang juga terlahir dan telah melahirkan lagi beberapa generasi di negeri yang mempunyai semboyan Bhineka Tungal Ika ini. Memang ironis.<span id="more-3"></span></p>
<p>Tapi merobah nama dengan nama yang terkesan Islami seperti yang dilakukan oleh Kho Koe Chieng ternyata menyisakan masalah tersendiri. Padahal sudah jaman reformasi. Contohnya Ahmad, nama yang sekarang disandang oleh Kho Koe Chieng. Beberapa kali ia sempat bermasalah dengan kantor imigrasi saat akan mengurus bisnis di luar negeri. Apalagi sekarang ini negeri kita telah dicap sebagai negara penghasil Teroris. Pokoknya, hal-hal yang berbau muslim pasti akan diselidiki. Kalau tidak dianggap teroris, pasti dianggap teman-temannya teroris. Namun Kho Ahmad ternyata sudah kebal dan terbiasa dengan mata yang selalu memandangnya dengan curiga.</p>
<p>“Coba diulangi pertanyaanya, Kho&#8230;eh, Pak Ahmad” Seru Kyai Santri. Mencair-kan suasana yang mulai riuh oleh gumam juga tawa yang tertahan. Dalam segala ketidak fahamannya, Ahmad lantang mengulanginya.<br />
“Untuk apa kita Puasa?”<br />
“Baiklah, saya mengerti. Namun sebelumnya, apa ada di antara hadirin yang mau membantu menjawab pertanyaan ini?”<br />
“Saya, Pak Kyai!” Erik ngacung.<br />
“Silahkan…..”<br />
“Sesuai dengan paparan yang telah disampaikan kyai tadi, saya kira inti puasa adalah untuk ibadah”<br />
“Betul, Nak. Ada yang lain?”<br />
”Menurut saya&#8230;..” Cepi menimpal ”&#8230;..sebagai pengendali hawa nafsu”<br />
”Ini juga benar”<br />
”Untuk menjaga kesehatan&#8230;..” Seru jang Daffi.<br />
”Ya !”<br />
”Supaya kita dapat merasakan penderitaan kaum papa yang tidak setiap hari dapat makan seperti kita” tegas Kang Imam.<br />
”Baik sekali. Masih ada yang ingin menambahkan?” Tanya Kyai.<br />
Semua terdiam dengan mata saling memandang. Berusaha untuk mencari-cari jawaban. Tapi luput. Sekali lagi Kyai Santri mengedarkan tatapannya ke hadirin sebelum akhirnya bicara.<br />
”Bagaimana Pak Ahmad?”<br />
”Jadi, untuk apa kita puasa?”</p>
<p>Ahmad mengulangi pertanyaanya seakan hendak menegaskan kalau ia masih ragu dan masih memilih-milih atas jawaban dari pertanyaan yang pernah diajukannya. Kyai tersenyum penuh arti. Tapi tak lantas membahasnya. Mencoba memilih kalimat yang pas agar mudah dipahami. Sepertinya ia tak ingin terkesan mendikte dan menggurui dalam penyampaian dakwahnya. Bagaimanapun ia ingin mengedepankan ahlak yang baik dalam menyampaikan visi misinya. Sangat berbeda dengan aktivis-aktivis sekarang yang selalu mengangap dirinya radikalis dan menempatkan kekerasan sebagai media dakwahnya.</p>
<p>”Begini saja,&#8230;..” Kyai Santri bicara juga ”&#8230;..bagi saya, puasa atau lebih tepatnya Shaum adalah untuk mencari kesempatan” Jawaban Kyai tegas.</p>
<p>Hadirin pun terhenyak. Dan mencoba berlari mengejar arah dari pikiran Sang Kyai yang dirasanya sudah agak jauh meninggalkan mereka.</p>
<p>”Maksud Pak Kyai?” Kang Imam ngotot.<br />
”Hmm,&#8230;.saya beri waktu pada hadirin sekalian untuk mendapatkan jawaban sendiri atas apa yang telah sampaikan barusan. Ya, supaya kita sama-sama mengalami dan memahami arti inti dari puasa tersebut. Pada kuliah subuh besok, kita akan bahas kembali” Tutup Kyai sambil membereskan kitab kuningnya.<br />
***<br />
Akhirnya, bulan Ramadhan tiba dengan gaya langkahnya yang khas. Orang-orang bersukacita meramaikan mesjid dan pusat-pusat perbelanjaan. Sebuah fenomena yang unik. Paradoks sosial antara ritual ibadah keagamaan yang menekankan nilai-nilai kesederhanaan dalam hidup, dengan perilaku masyarakat yang konsumtif.</p>
<p>Tetapi itulah salah satu sebab yang mungkin membuat bulan Ramadhan ini menjadi sangat begitu berarti, spesial. Setidaknya di Indonesia yang baru saja merayakan kemerdekaannya. Dan sekali lagi, di bulan suci ini, mereka sedang berusaha mengusir satu-satunya penjajah abadi. Yakni perang melawan nafsu diri sendiri.</p>
<p>”Bagaimana Saudara-saudara, apakah sudah mendapatkan kesimpulan tentang puasa dan kesempatan itu?” Tanya Kyai membuka pintu jalannya diskusi.</p>
<p>Para hadirin mulai berobah posisi. Rasa kantuk mulai pergi. Sementara di luar, hari mulai beranjak terang.<br />
“Oé, Pak Kyai”<br />
“Ya, silahkan Pak Ahmad”<br />
“Menurut Oé, memang bener kalau puasa itu adalah untuk mencari kesempatan. Ya, Oé kira supaya kita tidak boleh ketahuan oleh orang lain saat kita makan atawa minum di siang hari. Betul, kan?” Kata Ahmad dengan logat khas cinanya.</p>
<p>Sebelum Kyai Santri merespon, ledakan tawa telah menggetarkan satu-satunya mushala yang berada di tengah-tengah permukiman itu. Bagaimanapun, jawaban polos inilah yang menjadi pemicunya.</p>
<p>”Maksud Engko Ahmad téh, Nyémén?” Tanya Jang Daffi ngaheureuyan. Sementara yang lain masih belum meredakan tertawanya. Bahkan ada pula yang harus ke wc hanya untuk buang air kecil.<br />
”O, nyémén namanya. Oé mah baru nyaho&#8230;..”<br />
“Baiklah Hadirin&#8230;.” Kata Kyai setelah suasana tenang kembali ”Mungkin ada yang punya pandangan berbeda?”<br />
”Saya, Kyai&#8230;..” Seru Imam ”&#8230;..Jadi puasa itu adalah kesempatan untuk beribadah agar dapat mengendalikan hawa nafsu dan supaya kita mampu merasakan penderitaan fakir miskin&#8230;..Juga sehat tentunya”</p>
<p>Kyai tersenyum mendengar jawaban Imam yang seolah mengulang kembali atas jawaban-jawaban yang telah dilontarkan hadirin kemarin. Hanya yang aneh, setelah kedua orang tadi mencoba menjawab, maka tak ada lagi orang yang mengacungkan tangannya. Mungkin mereka ingin cepat-cepat mendengarkan jawaban langsung dari Kyai Santri yang sangat mereka hargai itu.</p>
<p>“Begini Saudara, memang, ibadah puasa selalu memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk berbuat lebih baik daripada sebelumnya. Tidak hanya pada persoalan ibadah kita secara vertikal kepada Sang Khaliq. Namun juga sebagai sarana untuk merangsang kepekaan jiwa sosial terhadap saudara-saudara kita yang masih berkekurangan. Pun sangat menyehatkan.<br />
Benar, kesempatan ini tidaklah mudah mendapatkannya. Hanya datang setahun sekali. Itu pun dalam kurun waktu sebulan saja. Ramadhan, ya, bulan yang penuh hikmah. Hanya yang saya tidak selalu mengerti adalah, justeru kesempatan ini tidak banyak dipergunakan dengan baik. Sehingga puasa yang kita lakukan hanya mendapat lapar serta dahaga saja.<br />
Kesempatan adalah waktu, sedangkan waktu adalah takaran hidup. Nah, dalam ibadah puasa inilah sejatinya kita berada dalam kawah candradimuka yang sarat cobaan dan godaan. Memang benar setan telah dikurung. Tapi hawa nafsu tidak. Tetap saja berkeliaran dengan bebasnya. Dan kita sendiri yang senantiasa harus mengendalikannya dengan segala daya upaya.<br />
Sayang, banyak orang yang keliru menyikapi kesempatan tadi. Apalagi menjelang Lebaran tiba. Berlebih-lebihan, itulah kesan yang selalu saya tangkap. Maka tak heran jika korupsi malah lebih meningkat di bulan yang suci ini. Tidak hanya di jajaran birokrasi pemerintahan saja, bahkan di lembaga-lembaga keagamaan. Lihat saja, setiap tahun zakat fitrah berlumbung-lumbung. Belum infak shadaqah lainnya. Tapi kemiskinan tetap saja tak terentaskan. Ini aneh.<br />
Suap menyuap kian menggila, baik melalui parcel atau pun bentuk hadiah lainnya. Bahkan dengan kedok THR. Lalu apa artinya dengan puasa &#8211; menahan nafsu &#8211; kalau yang terjadi seperti itu?”</p>
<p>Kho Ahmad manggut-manggut dengan hati yang kian terbuka. Matanya berbinar-binar menangkap kesan yang mendalam. Begitu pun hadirin yang lain. Sepertinya mereka baru sadar akan apa yang telah terjadi di sekitar mereka. Begitu dekat. Yang tadinya dianggap baik ternyata tidak sebagus kenyataannya. Ada setitik kepedihan yang dirasakan Kyai Santri dan kini telah meresap pada sekalian jiwa para hadirin.</p>
<p>Di luar, hari sudah semakin terang. Shubuh yang penuh hikmah berlalu pelan dengan menyisakan setitik jejak pengharapan. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini benar-benar diterima dengan meraih kemenangan besar di penghujungnya. Marhaban Yaa Ramadhan&#8230;&#8230;.!!!</p>
<p style="text-align:right;">Nagin, 1 Ramadhan 1430 H</p>
<p><strong>DIMUAT PERTAMAKALI DI LEMBAR BUDAYA</strong> <span style="font-weight:bold;">HARIAN RADAR TASIK</span></p>
<p>Tanggal Terbit: 30 AGUSTUS 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irvanmulyadie.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irvanmulyadie.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irvanmulyadie.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irvanmulyadie.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irvanmulyadie.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irvanmulyadie.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irvanmulyadie.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irvanmulyadie.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irvanmulyadie.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irvanmulyadie.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irvanmulyadie.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irvanmulyadie.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irvanmulyadie.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irvanmulyadie.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irvanmulyadie.wordpress.com&amp;blog=9284590&amp;post=3&amp;subd=irvanmulyadie&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irvanmulyadie.wordpress.com/2009/09/02/setitik-embun-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f0360d045dad801613ebd931b71db163?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irvanmulyadie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irvanmulyadie.files.wordpress.com/2009/09/ilustrasi-setetes-embun-pagi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ILUSTRASI setetes embun pagi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
